PALANGKA RAYA, Kalteng Digital — Antrean panjang kendaraan untuk pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax masih terjadi di sejumlah SPBU di Kota Palangka Raya. Kondisi ini bahkan menyebabkan antrean meluber hingga ke badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas di beberapa titik, seperti SPBU Pal 2 Jalan Yos Sudarso hingga kawasan Jalan Galaksi Raya.
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan terlihat mengular sejak pagi hingga sore hari. Pada jam-jam tertentu, terutama saat masyarakat berangkat kerja dan mengantar anak sekolah, kepadatan kendaraan semakin meningkat dan berdampak pada perlambatan arus lalu lintas di jalan utama kota.
Sales Branch Manager (SBM) Kalteng 1 Fuel, Hari Harjunadi, pada Senin (5/4/2026), membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa antrean masih terjadi pada waktu-waktu tertentu yang merupakan jam sibuk masyarakat.
“Memang beberapa hari terakhir antrean masih terjadi di pagi, siang, dan sore hari. Itu merupakan jam padat aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengurangi kepadatan, pihaknya telah melakukan penyesuaian operasional pada sejumlah SPBU di Palangka Raya. Dari lima SPBU utama, beberapa di antaranya kini diperpanjang jam operasionalnya hingga 24 jam.
“SPBU Pal 12 sudah beroperasi 24 jam. Sementara SPBU Yos Sudarso, Diponegoro, Sukarno, dan Imam Bonjol kami perpanjang sampai pukul 23.00 hingga 24.00,” jelasnya.
Hari juga menjelaskan bahwa puncak antrean sempat terjadi beberapa waktu lalu, terutama sebelum penyesuaian harga BBM pada 18 April. Saat itu, antrean kendaraan besar seperti truk turut memperparah kondisi di SPBU dalam kota.
“Antrean paling parah terjadi sekitar tiga minggu lalu. Bahkan di Pal 2 sempat meluber sampai memakan badan jalan,” ungkapnya.
Menurutnya, lonjakan tersebut dipicu oleh selisih harga yang cukup besar antara solar industri dan Dexlite, yang saat itu hampir mencapai Rp10.000 per liter. Kondisi ini membuat banyak kendaraan industri beralih ke Dexlite.
Namun saat ini, selisih harga tersebut telah menurun menjadi sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter, sehingga kendaraan industri mulai kembali menggunakan solar industri.
“Sekarang antrean Dexlite sudah jauh berkurang karena kendaraan industri kembali ke solar industri,” katanya.
Meski demikian, antrean untuk Pertamax masih terjadi di beberapa SPBU yang menjadi pilihan utama masyarakat. Salah satu titik terpadat berada di SPBU Imam Bonjol.
Ia menyebutkan bahwa kebiasaan masyarakat yang memiliki SPBU langganan menjadi salah satu penyebab penumpukan antrean di lokasi tertentu.
“Banyak masyarakat sudah punya SPBU langganan, sehingga tetap antre di lokasi yang sama meskipun ada SPBU lain,” ujarnya.
Pertamina sendiri telah menyiapkan alternatif SPBU lain untuk pemerataan distribusi, seperti di kawasan RTA Milono. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.
“Kami harapkan masyarakat bisa menggunakan SPBU alternatif agar antrean tidak terpusat di satu titik,” pungkasnya.
KALTENG DIGITAL | Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah















