PALANGKA RAYA, Kalteng Digital – Dugaan intimidasi berupa ujaran vulgar yang dialami seorang mahasiswi koordinator lapangan (korlap) dalam aksi solidaritas di Palangka Raya mendapat sorotan dari kalangan akademisi.
Sosiolog Universitas Palangka Raya, Yuliana, menilai peristiwa tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan mencerminkan upaya membungkam suara kritis perempuan di ruang publik.
Ia menyebut, tindakan pelecehan verbal yang diarahkan kepada aktivis perempuan merupakan bentuk tekanan agar korban merasa takut dan enggan kembali menyuarakan pendapatnya.
“Ini bukan sekadar serangan personal, tetapi bentuk pembungkaman terhadap perempuan yang aktif bersuara,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, dalam nilai sosial budaya Kalimantan Tengah, perempuan memiliki posisi yang dihormati dan memiliki kedaulatan atas dirinya. Namun, fenomena yang terjadi justru menunjukkan adanya pergeseran yang mengkhawatirkan.
Yuliana menjelaskan, praktik menyerang tubuh atau martabat perempuan dalam perdebatan publik merupakan bentuk “politik tubuh” yang tidak sehat dan menyimpang dari prinsip demokrasi.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat seharusnya disampaikan melalui argumentasi yang rasional, bukan melalui serangan personal yang merendahkan.
“Ketika tubuh perempuan dijadikan sasaran dengan kata-kata vulgar, itu bertujuan menciptakan rasa malu dan tekanan psikologis agar mereka mundur,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai kondisi ini menjadi ancaman bagi ruang demokrasi yang seharusnya inklusif dan aman bagi semua, termasuk perempuan dan mahasiswa sebagai kelompok intelektual.
Pelecehan yang terjadi, khususnya di media digital, dinilai berpotensi menghambat partisipasi perempuan dalam gerakan sosial dan akademik.
Yuliana juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang menyuarakan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, keberanian mereka seharusnya mendapat ruang, bukan justru dihadapkan pada intimidasi.
Ia mengingatkan bahwa Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) menjadi tantangan serius yang perlu dihadapi bersama agar tidak menghambat perkembangan generasi muda, khususnya perempuan.
Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga ruang digital tetap aman dan beretika, sehingga dapat menjadi ruang belajar dan berpendapat yang sehat.
“Ruang digital harus dijaga agar tetap aman dan setara, karena di sanalah generasi muda belajar, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan,” pungkasnya.
KALTENG DIGITAL | Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah





