SAMPIT, Kalteng Digital – Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memastikan kesiapan akhir keberangkatan 171 jamaah calon haji (JCH) tahun 1447 H/2026 M berjalan optimal meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Kantor Kemenhaj Kotim, Tiariyanto, mengatakan keberangkatan jamaah dijadwalkan pada 1 Mei 2026 dari Bandara Haji Asan Sampit menuju embarkasi Banjarmasin.
“Jamaah akan menginap satu malam di Asrama Haji Banjarbaru sekaligus menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan,” ujarnya, Kamis.
Ia menjelaskan, dari total 171 jamaah, sebanyak 167 orang tergabung dalam Kloter 6 dan masuk gelombang pertama, sedangkan empat jamaah lainnya akan diberangkatkan pada gelombang kedua melalui Kloter 19.
Sesuai jadwal, Kloter 6 akan bertolak dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin pada 2 Mei 2026 pukul 04.20 WITA menggunakan maskapai Garuda Indonesia menuju Madinah.
Sementara itu, empat jamaah pada Kloter 19 dijadwalkan berangkat pada 20 Mei 2026.
Selain kesiapan jadwal, pihak Kemenhaj juga telah menuntaskan berbagai persiapan, mulai dari manasik haji, pemeriksaan kesehatan, hingga distribusi logistik berupa koper yang akan segera dilakukan.
Dari total jamaah, terdapat enam jamaah prioritas lansia di atas 65 tahun, empat jamaah cadangan, serta 161 jamaah reguler. Jamaah termuda berusia 24 tahun, sedangkan tertua berusia 77 tahun.
Tiariyanto juga menyampaikan bahwa secara nasional terjadi penurunan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) pada 2026 dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, untuk jamaah asal Kotim melalui embarkasi Banjarmasin, biaya pelunasan sedikit berbeda, yakni sekitar Rp55,5 juta setelah dikurangi setoran awal.
“Kami terus berkoordinasi agar pelayanan kepada jamaah tetap maksimal meskipun ada penyesuaian anggaran,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten I Setda Kotim, Waren, menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah.
Ia menyebut, Pemkab Kotim kembali menyediakan layanan carter pesawat untuk mengantarkan jamaah ke embarkasi Banjarmasin yang dibagi dalam dua kali penerbangan.
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan jamaah, serta memudahkan pengawasan, termasuk dalam pemeriksaan kesehatan lanjutan.
“Walaupun ada efisiensi, pelayanan kepada jamaah tidak boleh berkurang agar mereka bisa beribadah dengan tenang dan kondisi yang prima,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan pesawat carter juga bertujuan agar jamaah tidak bercampur dengan penumpang umum, sehingga proses pengawasan dan pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan lebih optimal sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
KALTENG DIGITAL | Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah





