SAMPIT, Kalteng Digital – Harga rotan mentah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini diduga dipicu dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi permintaan pasar global.
Pengusaha rotan di Kecamatan Kota Besi, H Dahlan Ismail, mengungkapkan harga rotan kini merosot drastis akibat pembatalan pesanan dari pembeli.
“Harga anjlok. Dampak perang, banyak buyer membatalkan pesanan. Ditambah pengawasan jalur tidak resmi juga makin ketat,” ujarnya, Selasa.
Saat ini, harga rotan mentah di wilayah Kota Besi dan Cempaga turun dari Rp6.000 menjadi sekitar Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram. Bahkan di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, harga jatuh hingga Rp3.000 per kilogram.
Penurunan ini tentu berdampak langsung pada petani rotan. Meski harga merosot, sebagian petani tetap memanen dan menjual hasilnya demi memenuhi kebutuhan jelang Lebaran.
Menurut Dahlan, konflik di Timur Tengah membuat banyak pembeli menahan atau membatalkan permintaan karena faktor keamanan dan kondisi ekonomi global.
Dampaknya, pabrik pengolahan rotan ikut mengurangi pembelian bahan baku, termasuk dari Kotim.
“Gudang-gudang besar di Cirebon sudah mulai membatasi pembelian karena stok masih banyak dan kondisi keuangan mereka menipis,” jelasnya.
Tak hanya itu, sejumlah gudang penampungan rotan di luar Kalimantan bahkan sudah tutup sejak awal Ramadan. Di Banjarmasin, kini hanya tersisa dua gudang yang masih beroperasi.
Ia khawatir, jika kondisi ini terus berlanjut, maka setelah Lebaran akan semakin banyak gudang yang tutup, yang pada akhirnya semakin menekan petani.
“Kalau terus begini, kasihan petani kita,” katanya.
Dahlan berharap situasi global segera membaik agar permintaan kembali pulih. Pasalnya, sektor rotan masih menjadi salah satu penopang ekonomi bagi ribuan warga di Kotawaringin Timur.
KALTENG DIGITAL | Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah Berita Digital Masyarakat Kalimantan Tengah





